Bisnis Domba


Qurban Di Negeri Orang
July 2, 2008, 9:25 am
Filed under: artikel
Cerita dari negeri Belanda mengenai umat Muslim disana yang melaksanakan qurban di negeri Belanda, mulai dari harga dan pelaksanaannya yang saya dapat dari panyingkul.com . Menarik untuk disimak bagaimana lika liku melaksanakan ibadah qurban di negeri orang.

Hewan kurban di Belanda: Datang, Pilih dan Bagikan
:: Hamus Rippin ::

Kambing yang disiapkan sebuah rumah potong di provinsi Helderland, Foto: Hamus Rippin.
Umat Islam di Provinsi Noord Brabant(Brabant Utara), Belanda, tahun ini melaksanakan salat Idul Adha berbeda hari, yakni Sabtu dan Minggu (30/31 Desember 2006). Mereka yang melaksanakannya Sabtu, mengikuti pelaksanaan salat di Mekkah, Arab Saudi. Sementara kegiatan kurbannya diadakan dengan mengunjungi langsung rumah potong hewan. Citizen reporter Hamus Rippin melaporkan cara berkurban di Belanda, yang berbeda dengan di Indonesia.
Mesjid Indonesia di Waalwijk, An-Noer, yang selama ini berfungsi selaku mesjid internasional untuk jamaah Indonesia, Marokko, Mesir, Somalia, Bosnia, Suriname dan lain-lain, melaksanakan salat pada hari Sabtu. Seusai salat, jamaah secara berkelompok atau perorangan pergi ke tempat pemotongan hewan secara Islami. Hewan kurban yang akan mereka potong telah disediakan oleh perusahaan rumah pemotongan Ilamitische slachterij yang terdekat dari kota masing-masing. Hewan-hewan itu sudah siap dibeli dan dipotong. Tinggal dipilih jenis dan tingkatan harganya. Pembeli yang hendak berkurban tinggal membayar dan menerima beres hewan kurbannya.
Di Belanda tidak semua kota memiliki rumah potong hewan secara Islami. Satu rumah potongharus diseleksi dengan persyaratan tertentu, baru diberi izin untuk memotong hewan spesial untuk kepentingan komunitas muslim. Jarak antara satu rumah potong dengan lainya kadang jauh, puluhan kilometer. Kadang satu provinsi memiliki beberapa rumah potong hewan secara Islami, tetapi kadang juga satu provinsi hanya satu. Karena itulah kadang umat Islam harus antre hingga dua hari untuk mendapat giliran di provinsi yang hanya satu rumah potongnya.
Saya yang tinggal di Noord Brabant misalnya, pernah mendatangi tiga tempat pemotongan hewan yang melayani umat Islam. Semua tempat itu adalah milik orang Belanda, namun menyediakan daging hewan yang dipotong menurut ritual ajaran Islam.
Islamitisch slachthuis umumnya mempekerjakan orang Islam dari Marokko,Turki, Bosnia dan lain-lain selaku juru potong. Hari raya kurban merupakan kesempatan khusus bagi juru potong. Sebab, mereka biasanya akan bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 23.00 malam. Itu pun, belum tentu dapat melayani banyaknya permintaan jamaah yang hendak berkurban.
Hewan yang sudah dipotong, kemudian dikuliti dan dibersihkan. Satu rumah potong yang biasanya mempekerjakan 25 hingga 30 orang, sering kewalahan pada saat hari raya Idul Adha. Bagian tertentu dari hewan kurban tidak diambil, misalnya kepala, kaki, kulit dan isi perut, kecuali kadang-kadang ada juga yang mengambil bagian hati dan jantung hewan kurban. Pembeli akan membawa daging hewan kurbannya untuk dibagi-bagikan kepada yang berhak.
Petugas rumah potong menguliti hewan kurban.Foto: Hamus Rippin.
Dua warga Indonesia yang siap mengangkut hewan kurbannya ke rumah masing-masing dan membagikannya kepada yang berhak.Foto: Hamus Rippin.

Sangat Mahal

Dibandingkan dengan di tanah air, harga hewan kurban di Belanda jauh lebih mahal. Seekor kambing harganya antara 100 hingga 150 euro (1,1 – 1,7 juta rupiah), tetapi berat daging bersama tulang, setelah dikuliti, dikeluarkan isi perut, kepala dan kaki, bisa mencapai 50 kilogram. Malah yang besar sekali mencapai 60 kilogram atau lebih. Domba harganya antara 225 – 350 euro (2,6 – 4,1 juta rupiah) dan sapi jantan antara 1700 – 2000 euro (18 – 23 juta rupiah), tergantung besarnya.
Dari satu daerah dan daerah lainnya juga terjadi perbedaan harga. Malah antara satu rumah potong dengan rumah potong yang lain kadang berbeda. Namun, meski harga hewan cenderung naik pada saat banyaknya permintaan seperti pada hari raya umat Islam ini, toh tidak mengurangi keinginan para jamaah untuk tetap melaksanakan kurban sesuai kemampuannya masing-masing.
Menurut pengalaman saya yang sudah puluhan tahun tinggal di wilayah Brabant, sangat sedikit orang Islam asal Indonesia yang mengunjungi rumah potong hewan pada hari kurban. Apabila saya berbincang dengan mereka, banyak yang beralasan sudah mengirim uang kurbannya ke tanah air.

Panyingkul.com


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: